TANTANGAN DALAM MENERAPKAN ECOLABELING PADA WILAYAH HUTAN TROPIS

Tantangan menerapkan ecolabeling pada wilayah tropis, sama seperti di wilayah lain, skema sertifikasi ekologi menghadapi beberapa rintangan tinggi. Bahkan saat para pelanggan memilih produk-produk ramah lingkungan, sertifikasi ekologi ini dapat terhambat oleh korupsi dan pemerintahan yang lemah, ukuran tidak efektif untuk memastikan keberlangsungan lingkungan dan bocornya produk-produk tidak bersertifikat ke pasar.

Sebagai contoh, Forest Stewardship Council (FSC), yang kerap dilihat sebagai standar emas untuk sertifikasi produk-produk kayu, mendapatkan kritik besar-besaran dari beberapa kelompok lingkungan. Para pengkritik mengungkapkan bahwa sertifikasi FSC pada produk dari ‘sumber campuran’, seperti furnitur yang hanya sebagian bahannya berasal dari kayu bersertifikat, merusak kredibilitasnya. Sertifikasi pada beberapa skema kayu yang meragukan, seperti perkebunan monokultur di lahan-lahan bekas hutan, juga merusak label. Tahun lalu, sebuah penyelidikan dari Wall Street Journal memaksa FSC untuk secara efektif mencabut sertifikasi dari Asia Pulp and Paper Company yang berkantor di Singapura karena melakukan kegiatan yang merusak lingkungan di Pulau Sumatra, Indonesia.

Korupsi dan penggelapan juga termasuk dalam kekhawatiran. Berkolaborasi dengan petugas yang korup, bisa membuat beberapa perusahaan memperoleh sertifikasi yang tidak benar atas produk mereka, dimana sebuah perusahaan bisa mengaku memiliki sertifikasi padahal mereka tidak memilikinya. Sebuah laporan baru-baru ini tentang penebangan ilegal di Asia Tenggara, contohnya, menguak bahwa paling tidak dua perusahaan furnitur besar memasarkan produk-produk bersertifikasi ekologi padahal mereka tidak memiliki label tersebut.

Tantangan lain adalah mengevaluasi dengan benar berbagai aktifitas perusahaan kayu internasional. Para penyertifikasi ekologi telah dituduh terlalu menyempitkan fokus pada operasidi dalam pusat wilayah konservasi dan mengabaikan operasi perusakan di daerah lain. Sebagai tambahan, perusahaan kayu seringkali membeli kayu dari bermacam-macam sumber dan sub-kontrak ke perusahaan lain, dan itu bisa menjadi sangat sulit untuk ditentukan apakah cabang-cabang dan rekan-rekan mereka tersebut terkait pada penebangan yang merusak.

Di akhir, beberapa kritik berpendapat bahwa operasi kayu yang bersertifikasi ekologi jarang sekali memiliki dampak berkelanjutan pada jangka waktu yang panjang. Penebangan yang berulang-ulang di hutan yang pertumbuhannya lama dapat mengurangi stok karbon dan menurunkan habitat untuk spesialisasi hutan, karenanya mengancam keanekaragaman hayati. Lebih jauh, hutan yang ditebangi jauh lebih mudah mengering, terbakar, dan gundul dibandingkan dengan daerah yang tidak ditebangi.

world.mongabay.com/indonesian